
Menarik, kami menggunakan transportasi darat yang cukup kumplit. Mulai kereta kuda (delman) hingga kereta api, dari ojeg motor hingga bentor (becak ditarik motor), dari bus kota, bus reguler hingga bus malam. Kamipun menggunakan angkutan kota dan taksi secara tak sengaja, karena dipaksa sang sopir, daripada ngelamun tak dapat income hehe.... mending narik penumpang bedol desa ini meskipun dengan biaya seadanya....
Perjalanan ke Surabaya dimulai di rumah ortu di Tanjungsari. Agar mudah akses membawa barang ke shelter DAMRI di pasar Tanjungsari untuk membawa perlengkapan. Kebetulan ada kereta kuda (delman) alias keretek yang biasa lewat depan rumah ortuku. ....
Tak lama tiba di pul bus DAmri Tanjungsari - Kebon Kalapa. Meski ada 3 bus parkir, saya memilih bus AC yang urutan ketiga. Tidak mengapa karena tokh jadwal kereta api Malabar pukul 15.30. Itung-itung jalan-jalan. Kulewati SD Negeri Cibiru 5 Kota Bandung, tempat tugasku yang sudah sepi. Tak ada keramaian dan hiruk pikuk anak-anak. Juga Pak Satpam yang selalu sibuk menyebrangkan anak-anak tak terlihat.Bus pun tiba di Kebonkelapa dan angkot Elang-Cicadas membawaku ke Stasiun Bandung Kebonkawung. Jam 11.00 tiba di Stasiun, suami pergi untuk salat Jum'atan. Kami menyaksikan aktivitas di stasiun terbesar di Kota Bandung ini.
KA Malabar Express merupakan kereta api terjauh dari kota Bandung. Kereta ini memiliki 3 rangkaian berbeda kelas yakni eksekutif, bisnis dan ekonomi plus dalam satu rangkaian. Tiket kereta komersil sudah abis, untungnya ada kelas ekonomi plus (++) masih tersisa meskipun naik dari 90.000 menjadi 140.000. Ini setara kelas bisnis KA Mutiara Selatan di hari normal. Dibandingkan KA ekonomi biasa, Pasundan atau Kahuripan sekitar Rp. 35.000 harganya 3 kali lipat lebih. Saya pun memesan 4 tiket seminggu sebelumnya, termasuk satu bangku kosong buat anakku tidur.
Kereta pun berangkat pukul 15.30 melewati stasiun Kiaracondong, Rancaekek, Cibatu, Cipeundeuy, Tasikmalaya dan Banjar. Kemudian Sidareja, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Yogyakarta, Klaten, Solo dan Sragen. Memasuki Jawa Timur kereta api berhenti di stasiun Paron, Madiun, Nganjuk dan Kertosono.
Di Kertosono, kami turun, lalu naik becak motor (bentor) ke lokasi. Anak dan keponakan sudah menanti. Setelah mengurus surat izin, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus reguler trayek Tulungagung-Surabaya yang lewat jalan itu. Perjalanan menggunakan bus ini memacu adrenalin kami. Sang sopir menikmati jalan lurus Jombang-Surabaya beberapa kali mencoba menyalip kendaraan di depannya. Adu gas pun terjadi. Hemhhh.... Kepanikan dan lokasi turun yang baru sekali membuat kami turun lebih jauh 700 m dari semestinya. Celakanya kami tak begitu hapal daerah ini. Seorang calo taksi merayu abis kami bahwa ia sanggup mengantarkan kami berjumlah 7 orang (dengan bayi) ke tujuan dengan membayar ongkos 20.000 rupiah. Wahh berani deh... apalagi bawaan kami cukup banyak. "Ayo naik deh...." Tariik, Kami pun tiba di Madaeng.
Setelah beristirahat sebentar, sorenya kami diantar dengan mobil pribadi Xenia, milik adik membeli oleh-oleh khas Sidoarjo di Toko Mitra Jalan Mojopahit Sidoarjo. Aneka penganan berbahan krupuk berbahan ikan menjadi buah tangan khas daerah berikon udang dan bandeng ini. Kami pun membeli dikemas dalam dua dus. Perjalanan pulang melalui Bandara Internasional Juanda yang megah dan anggun. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Malam itu kami tidur di Sidoarjo.
Esoknya perjalanan difasilitasi oleh mobil keluarga adik, kami mengunjungi Jembatan Suramadu. Jembatan antarpulau terpanjang di Nusantara memiliki panjuang 5,4 km merupakan mahakarya dikerjakan oleh anak bangsa. Sesampai di bumi Mbok Bariah, yakni Pulau Madura, kami menuju kios souvenir yang menjajakan karya seni dan cinderamata khas Madura. Ikat kepala, kuda kepang, batik, dan aneka kerajinan lainnya kami beli, yang jelas kami tidak beli GARAM sebagai produk populer pulau garam ini. hehe Perjalanan selanjutnya, kami berkeliling kota Surabaya. Mengunjungi Museum Kapal Selam, Menara Mesjid Agung dan Berpose sejenak di Patung Hiu dan Buaya di depan Kebun Binatang Surabaya.
Puas berkeliling kota Surabaya, kami melajutkan ke Porong Sidoarjo, mengobati kepenasaran melihat lumpur Lapindo. Dengan tanggul dibuat maksimal 11 meter, di tanggul ini kami melihat sejauh mata memandang lautan lumpur yang terbuat dari semburan lumpur di bekas penambangan minyak milik PT. Lapindo Brantas. Atap pabrik menjadi saksi bisu bahwa di sini pernah berdiri sebuah hunian pada mulanya. Rasa kepenasaran pun terobati. Kami pun pulang ke base camp.
Kami istirahat sebentar dan berkemas karena pukul 16.00 kami akan langsung menuju terminal bus Bungurasih untuk melakukan perjalanan pulang. Liburan ini terasa singkat, karena tujuan utama kami menjemput anak-anak sekalian bersilaturahmi ke keluarga adik. Kedua, ditunggu di Lembang karena akan segera mengadakan kenduri hajatan khitanan putranya. Liburan membuat tiket kereta api abis dan beruntung saya telah memesan sebelumnya tiket bus malam Kramatjati Malang-Surabaya-Bandung.
Hampir dua jam menunggu bus yang terjebak kemacetan di daerah Porong dari Malang, pukul 18.00 kami baru meninggalkan Bungurasih, terminal bus terbesar di Surabaya itu. Bus pun melaju menuju pul bus di Jalan Arjuna Kota Surabaya. Selanjutnya melalui Lamongan. Karena macet, seharusnya bus melalui kota Tuban, terpaksa mengambil jalur pintas melalui Bojonegoro, Blora, Purwodadi mencapai Kota Semarang. Deretan tambak garam dengan gundukan garam dalam perjalanan ini tak bisa kami saksikan. Di daerah Batang (Jawa Tengah) kami menggunakan jatah makan malam.
Pukul 06.00 bus Kramatjati memasuki pintu tol Pejagan (Brebes) memasuki perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Keluar di pintu Plumbon mengambil arah ke Kadipaten. Gunung Tampomas mulai tampak sebagai gunung kebanggaan warga Sumedang. Ini pertanda, perjalan panjang kami akan segera berakhir.Di Pom Bensin dekat pasar Tanjungsari kami turun. Mitsubishi Kuda dikendarai Om Ojoy sudah menanti di sudut POM Bensin. Karena saya membeli sesuatu di pasar Tanjungsari, tidak ikut jemputan, makaOjeg motor pun membawa kami ke tempat berlibur kami di rumah orang tua. Perjalanan panjang jauh melelahkan tapi menambah pengalaman baru di lokasi dan tempat baru kami jumpai membawa seberkas kisah untuk pembaca. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar